I am Working Mom and This is My RULES!

By | September 21, 2016

Setelah beberapa hari lalu lihat ada postingan Mbak Windy Teguh di Blog – Windy Land-nya tentang Working Mom, saya jadi ingin curcol juga tentang being working mom yang harus saya jalani dalam keseharian, at least sampai dengan hari ini.

Sebagai seorang Ibu yang bekerja saya menerapkan beberapa aturan untuk diri saya sendiri demi menciptakan kenyamanan, dan saya paling tidak suka dengan komentar “makanya jadi full mom-dong” you dont even know how my life is? how many mouth I should feed? But, ya sutralah….this is my life! Eh, ada lagi yang bikin saya terus ngurut dada “Makanya…bisnis ini dong bisa dikerjakan dari rumah” Ok, Ok…saya sedang memikirkan asal jangan paksa saya ikutan bisnis kamu-lah bukan karena saya gak suka pun anti-pati tapi emang jiwa saya gak di sana. Asal tahu saja, orang mau memutuskan untuk berbisnis sendiri gak semudah buku-buku atau seminar-seminar lho….

Jadi, sampai sekarang status saya masih tetap working mom dan saya memiliki RULES sendiri karena sebelum menjadi seorang Ibu saya sudah mulai memahami bagaimana riwehnya oleh karena itu saya dulu sering membantu para working mom ini agar mereka bisa pulang teng-go bahkan cabut duluan apalagi kalau anaknya sakit dengan senang hati saya bilang “I am gonna help you, Mommy“. Saat sebelum menjadi Ibu, lembur hajar, ke luar kota nginep-nginep? ayo saja….weekend harus stand by di showroom gara-gara ga ada sales pun? monggo…I am totally okay for profionalism.  Tapi, setelah menjadi Ibu, hereby….saya punya aturan sendiri dalam bekerja.

Aturan pertama : Datang tepat waktu ataupun telat, pulang harus “TENG-GO” karena saat kerja waktu saya dedikasikan untuk perusahaan, mau telpon anak pun saya tunggu waktu  istirahat dan bahkan biar bisa pulang cepat saya gak istirahat! cuma berhenti buat maksi dan sholat. Karena di perusahaan saya ada aturan “potong gaji” kalau telat.

No-Work on weekend : Selama lima hari waktu bekerja sudah sepenuhnya didedikasikan untuk perusahaan dan kalau weekend harus bekerja saya akan membawah anak saya, boleh nggak? Kalau nggak, siapa yang jaga? Kecuali penting banget gak papa asal gak keseringan! tapi tuker ya….besok Senin-nya saya libur? he he he. Everyone agree!

Libur atau CUTI – No Panggilan urusan kerjaan : Kalau udah libur gak bisa diganggu, gak juga begitu lho…tapi masak iya 5 hari masih belum cukup sih? saya lho cuma punya Sabtu dan Minggu dengan keluarga kok masih diganggu telephone urusan kerjaan? kebangetan, kan? Apalagi kalau masih disuruh buka laptop saat cuti, oh my god! Cuti lho saya gak dibayar plus kalau cuti habis gaji dipotong, di mana kewajiban saya harus mengurusi kerjaan saat cuti?.

Yang seperti ini mungkin beberapa dari mereka bilang “gak profesional”, justru saya memandang profesionalisme dari ketepatan waktu. Profesi itu saat di tempat kerja dan pasa jam kerja karena pekerjaan kita bukan pelayanan masyarakat seperti dokter, bidan dan kawan-kawan.

Memang sih, kadang saya break the rules juga karena untuk panggilan dari client saya masih tetep welcome dan ini sebagai bentuk loyalitas saya terhadap mereka. RULES ini menjadi saklek untuk masalah timing, sebenarnya. Karena seorang Ibu yang bekerja, umumnya mereka harus bangun lebih awal, demi menyiapkan kebutuhan keluarganya dan setelah pulang pun masih diribetkan dengan urusan keluarganya. Seperti yang orang banyak tahu, pekerjaan rumah itu tidak pernah ada habisnya.

After all, saya cuma mau bilang kalau ibu bekerja itu punya dua profesi yaitu sebagai karyawan dan Ibu rumah tangga. Di kantor ya dia harus profesional sebagaimana seharusnya seorang karyawan dan di rumah pun demikian. Jadi being profisional in the right place, he he he.

Cheer up !

Share Button

5 thoughts on “I am Working Mom and This is My RULES!

  1. 'Ne

    hampiir sama ma saya Hani,
    sebagai working mom dengan anak balita 1,5th masih kasih ASI meski disambung sufor jadi punya aturan sendiri.
    Pulang Teng-Go selama bukan akhir bulan, karena akhir bulan sudah pasti sampai malam.
    Begitu jam 12 siang pulang ke rumah istirahat dan menyusui hehe (ini karena jarak rumah dan kantor ga sampai 5 menit naik motor hehe)

    jadii harus pinter2 atur waktu juga yah..

    Kadang, ke teng-go an kita dianggap tidak profesional pun demikian dengan tidak bisa dihubungi saat cuti, padahal kita punya alasan sendiri ya… he he he

    Reply
  2. Enny Law

    Jujur aja klo lihat working mom, antara takjub dan kasihan. Aku sih gk kuat jd working mom, salut untuk para working mom. Aku kerjanya disambi di rumah aja kadang masih keteteran.

    Butuh komitment, Mbak…terkadang juga kerjaan rumah keteteran demi ngurusin anak juga suami plus kerjaan lancar

    Reply
  3. andre

    jadi working mom memang gak gampang. Butuh sosok wanita yang hebat

    Yang pasti kalau kita udah memutuskan, kita memang tidak boleh pantang menyerah 🙂

    Reply
  4. Agung Pushandaka

    Saya dibesarkan oleh seorang Ibu yang juga bekerja di kantor. Masa-masa paling sulit menerima ketiadaan Ibu di rumah adalah di umur 5-12 tahun. Apalagi saya harus menjaga adik-adik juga. Jujur, sebagai anak, dulu saya sering iri melihat teman-teman sebaya yang pulang sekolah sudah bisa bertemu Ibunya dan memasakkan makan siang yang saya yakin pasti lezat (masakan ibu selalu lezat). Tapi setelah remaja dan beranjak dewasa, pikiran seperti itu sudah ndak ada lagi.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *